Selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal

Mengetahui Tempat Menakjubkan Membuat Hati Bahagia

Traveling Salah Satu Cara menghilangkan Penat

Mengajar itu Pekerjaan yang Menyenangkan

Dunia Penuh Canda Tawa Peserta Didik

Friday, 8 May 2020

Belajar Menulis Gelombang 10 Hari Ke-10

Di penutup pertemuan minggu ke-2 dalam Kegiatan Menulis bersama Om Jay. Kita kedatangan tamu yang sungguh special. Penerbit Andi Offset, tentu setiap orang pasti sering mendengar dan melihat langsung tulisan Penerbit Andi Offset pada buku yang diterbitkan. Nara Sumber yang akan memberikan materi Proses Menerbitkan Buku Ajar . Beliau adalah Direktur Penerbitan di Penerbit Andi, Bapak Joko Irawan Mumpuni.

Sebelum pemaparan materi Oleh Bapak Joko Irawan Mumpuni, mari kita tentukan posisi?? Dimanakah kita berada saat ini jika dikaitkan dengan kegiatan menulis. Mulailah dari sekarang kita sadar diri, jika sudah tau akan posisi ayo kita belajar. Semangat untuk tingkatkan ke posisi yang lebih tinggi sampai akhirnya bisa menciptakan sebuah karya BUKU.
Perhatikan beberapa aspek yang terkait dalam Dunia Penerbitan.

Sedikit kita melakukan flashback materi beberapa hari kebelakang. Menurut Ibu Farrah Dina dalam menulis harus memiliki 4R ( Renjana, Rutin, Review dan Ruang bagi Pembaca). Menurut Bapak Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd. teknik pendalaman materi dalam menulis yakni 3P ( Paper, Person dan Place). Kali ini, untuk lebih mudah dalah mengingat saya memodifikasi saja. Ekosistem dalam penerbitan melibatkan 4P ( Penulis, Penerbit, Penyalur dan Pembaca).

Setiap siklus tentu ada siklus Input – Proses – Output. Untuk naskah menjadi sebuah buku, tentu akan mengalami siklus tersebut. Input/masukan dari penulis memiliki naskah dan output atau hasilnya berupa buku. Bapak Joko Mumpuni akan menceritakan proses dari naskah menjadi sebuah buku yang siap ditangan pembaca untuk dibaca.
1.  Penilaian Naskah
Naskah yang sudah jadi akan diserahkan kepada penerbit. Naskah akan dinilai oleh penerbit layak atau tidaknya naskah itu bisa diterbitkan menjadi buku.
2.  Surat Pemberitahuan dan Permintaan Softcopy
Jika level naskah sudah dikatakan layak, penerbit akan memberikan surat pemberitahuan kepada penulis dengan meminta softcopy naskah dan menandatangani surat perjanjian.
3.   Edit Naskah
Penerimaan naskah berupa softcopy naskah dari penulis, sudah diterima oleh penerbit. Walaupun bagi penulis naskah sudah diedit, namun di sisi penerbit akan tetap melakukan proses edit naskah salah satunya dari sisi bahasanya.
Proses Setting Buku dengan memperhatikan ukuran buku, hiasan, tebal buku dan terdapat proses pembuatan Cover Buku yang disesuaikan dengan target marketnya.
4.  Proff Penulis
Proses pencetakan satu buku yang seakan-akan persis sama dengan buku yang nanti akan di terbitkan ini dikenal dengan istilah Naskah Proff atau Dami. Hal ini bertujuan agar penulis bisa melakukan koreksi secara total tentang buku yang akan final untuk dicetak dalam jumlah besar.
Terkadang sering ada pertanyaan pada saat proses proff atau dami buku. Boleh mengubah secara total isi naskah itu. Tentu saja boleh, namun yang pasti akan menambah waktu yang lebih panjang. Seharusnya buku yang dinanti siap untuk dibaca. Bapak Joko Mumpuni menghimbau agar sebelum penulis memberikan naskah ke penerbit, yakinkan naskah itu sudah final.
5.  Koreksi ( Koreksi Komputer dan  Koreksi Manual )
Setelah naskah dami dikoreksi maka penerbit akan melakukan koreksi secara komputer dan koresi secara manual. Pada proses koreksi buku dami, penulis diperbolehkan untuk melakukan coret-coret perbaikan..
6.  Cetak Film ( Cetak Isi Buku, Cetak Cover Buku )
Cetak film ditempelkan dalam plat cetak, yang kemudian dimasukkan dalam alat cetak besar. Kemudian akan dicetek lembar demi lembar. Dalam dunia percetakan dikenal dengan istilah kateren. Dalam 1 Kateren akan bisa menghasilkan 8,16, 30 halaman cetak.
Setelah selesai akan masuk mesin lipat dan dipotong kemudian di bending dan siap menjadi buku yang sempurna.

Bagaimana Sudah Berkeinginan untuk Menulis Buku??? Lalu apa indikator yang didapatkan oleh penulis dari menerbitkan buku???
a.  Kepuasan
kepuasan tersendiri jika hasil karyanya bisa bermanfaat bagi orang lain.
b.  Reputasi
Orang-orang akan makin mengenal siapa kita. Kita akan menjadi semakin terkenal. Banyak orang akan melihat akun media social yang kita punya.
c.   Karir
Secara tidak langsung karir akan meningkat, dengan Buku ber ISBN akan membuat mudah untuk mengurus kenaikan pangkat.
d.  Uang
Semakin banyak buku yang laku dan diterima disisi pembaca, penulis akan mendapatkan hasil dari tulisannya itu sebagai royalti.


Buku sukses dari awal sudah terlihat nyata. Bagaimana penerbit bisa mengetahuinya? Penerbit akan menilai naskah sukses tidaknya dari besar peluang potensi pasarnya. Disusul dengan Keilmuan buku itu sesuai dengan yang dibuat. Jadi pikirkan akan membuat buku seperti apa yang peluang potensi pasarnya tinggi. Perhatikan kaidah sistem penilaian di penerbit

Ada 4 Kuadran yang mesti diperhatikan dalam membuat naskah agar naskah yang diterbitkan laku di pasaran.
a.     Kuadran 1. Tema Tak Populer dan Penulis Populer, Buku akan bisa laku dipasaran dengan grade setengah sukses.
b.     Kuadran 2. Tema Populer dan Penulis Populer, paling ideal ke duanya sama-sama mendukung
c.      Kuadran 3. Tema Populer  Penulis Tak Populer lebih cocok untuk penulis pemula, cari tema yang poluper
d.     Kuadran 4 Tema Tak Populer dan Penulis Tak Populer, bisa diyakinkan akan di tolak penerbit.

Kita bisa mengetahui besar kecilnya peluang buku yang kita akan terbitkan dengan melihat trend, salah satunya bisa dilihat pada google trend. Buku yang selalu tetap trendnya di pasaran adalah buku yang bergenre Buku Pelajaran. Dengan tetapnya kurikulum, buku itu akan stabil diminati oleh pembaca dan selalu laku di awal semester.


Proses penerbitan selalu terkait dengan jumlah cetak buku, istilah kerennya adalah Oplah. Semakin banyak oplah semakin baik. Tentukan buku itu akan masuk di kwadran mana, sehingga oplahnya pun akan disesuaikan.
a.     Kuadran pertama, Market sempit dan Lifecycle panjang penerbit tidak akan rugi dengan keuntungan tertunda. Salah satunya  buku ilmu murni, dengan sistem jumlah pencetakkan menengah dengan tidak mungkin menimbulkan kerugian, lakunya jangka panjang.
b.     Market lebar dan Lifecycle panjang. Contohnya Enkslopedia, dengan pasar yang besar dan laku selamanya. Diantara 4 kuadran yang paling ideal adalah kuadran ini.
c.   Market lebar Lifecycle pendek dengan ciri buku-buku tergantung dengan perkembangan teknologi. Setiap waktu akan ada realease buku baru. Buku seperti itu akan mengalami revisi dalam pencetakan. Keberadaan buku yang terdulu dicetak dan masih tersisa dalam gudang, penerbit akan melakukan pemusnahan.
d.     Market sempit Lifecycle pendek, sebaiknya ini yang harus dihindari. Tidak akan laku.

Penerbit tidak akan menolak jenis Gaya Selingkung yang digunakan oleh penulis, dengan syarat harus konsisten. Penilis dapat menetapkan lebih dari satu cara pengutipan dan penulisan pustaka sesuai dengan lingkup bidang penerbit. Misalnya dengan standar American Language Association (ALA), Michigan Language Association (MLA), Chicago Manual Style (CMS), American Psychology Association, Vancouver Style, Harvard Style. 


Sudah dipikirkan dalam diri, kita nanti akan menjadi penulis tipe apa ya??? Idialis atau Industrialis.  Sedikit ulasan, Golongan Penulis Idealis tidak memperdulikan royalty. Golongan Industrialis lebih oritentasi ke finansial. Semua itu sah-sah saja. Seiring perjalanan waktu dan jam terbang tinggi dalam menulis, golongan industrialis akan tergeser ke golongan idialis. Salah satu kecil contoh idealis penulis dalam judul buku. Terkadang golongan idelis tidak mau untuk mengganti judul agar lebih bernilai jual tinggi. Walaupun dengan konten buku yang menarik tidak disertai dengan judul yang menarik, jelas akan mempengaruhi penjualan buku tersebut.

Bapak Joko Irawan Mumpuni menanyakan pertanyaan untuk peserta. Buku yang laku dipasaran dengan tingkat keilmuan tinggi atau yang dasar???
Dengan melihat pasar yang lebar adalah buku-buku dengan tingkat ilmuannya dasar. Jadi jika bapak-ibu yang dengan tamatan Doktor dan Master janganlah merasa malu untuk menulis dengan tingkat keilmuan dasar. Ingat yang menjadi perhatian adalah pasar yang lebar. Berikut gambar piramida level materi dan lebar pasar. semakin mengerucut ke atas semakin sempit pasarnya.


Pertanyaan klasik yang sering ditanyakan oleh penulis, jika buku sudah dicetak kapan akan mendapatkan royalty?? Royalti diterima setelah buku itu terbit, diedarkan 6 bulan pertama, 6 bulan berikutnya,dsb. Royalti akan diterima per semester. Jadi hendaknya penulis dan penerbit harus menjalin kerja sama agar buku segera terbit dan bisa didistribusikan. Ini adalah siklus proses administrasi naskah di penerbitan.


Menurut Joko Irawan Mumpuni di penerbit Andi, naskah masuk tiap bulan 300-500 judul. Hanya 10% yang diterima. Proses penolakan terjadi karena masalah penerimaan pasar. Cara menyiasati agar bisa mencetak buku, ada beberapa kerja sama antara penerbit dan penulis :
1.     Kerja sama Reguler dengan naskah belum tentu diterbitkan
2.     Kerja sama MoU antar Lembaga
Naskah ada jaminan pasti diterbitkan
Logo kampus dicantumkan dalam cover
Meningkatkan rangkin webometric kampus karena buku tersebut akan diupload di googlebook
Wajib dipakai/dibeli kampus minimal 300 eks.
3.     Kerja sama MoU Perorangan
4.     Program ANDI Pro Literasi
Penulis menyediakan dana Rp.10.000.000 dalam satu buku. Penerbit dipaksa untuk menerbitkan buku demi kepentingan penulis. Biasanya digunakan untuk kepentingan naik pangkat.

Pertanyaan yang terangkum dalam pertemuan hangat di pengujung minggu ke dua ini :
Kalau saya mau coba terbitkn mayor apakah isinya harus dirubah atau boleh sama seperti yg diterbitkan sblumnya?
Kalau buku itu sudah pernah meiliki ISBN berarti buku itu sudah legal terbit, nah kalau diterbitkan kembali makan itu namanya CETAK ULANG, kalau akan diterbitkan sebagai buku baru maka harus direvisi total.
Seperti apa itu naskah dan apa aja isinya. Seperti apa penulis pemula yg dilirik oleh penerbit mayor. Mohon om joko ulas sedikit tentangvgaya selingkung
Penulis pemula yg dilirik penerbit mayor adalah  penulis yang punya naskah bagus yang marketeble. Untuk gaya selingkung, akan saya emailkan detailnya ya OM, mohom alamat emailnya..
ada slide yang menyebutkan 4 kriteria naskah yang utama di terbitkan yaitu tema populer dan penulis populer, sedangkan untuk tahap sekarang kami masih berada di penulis yang belum populer.pertanyaannya Apa yang harus kami lakukan agar tulisan kami bisa diterima di penerbit ANDI Jenis tulisan seperti apa yang penerbit ANDI inginkan.
Keduanya Populer (thema, nama penulis) tapi salah satu saja nggak papa, oleh karena itu tulislah buku yang themanya populer dan dibituhkan masyarakat banyak. ANDI menerbitkan thema apa saja asalkan kami perkirakan buku itu akan laku
Bagaimana agar tulisan/ naskah kita bisa diterbitkan oleh Andi? Apakah tulisan tentang kegiatan menulis (kumpulan materi/resume) bisa diterbitkan Andi?
Model tulisan itu bisa saja diterbitkan, tetapi sangat tergantung dari kumpulan tulisan apa, resum tentang apa dari forus apa?, dari situ harus bisa disimpulkan kalau buku itru kan laku.
Apakah setiap buku harus dicetak atau cukup pemasarannya secara e-book?
Saat ini dua-duanya, cetak dan ebook
Bagaimana dengan nasib naskah naskah yang tidak Lolos saat di nilai
Nasibnya akan tragis jika penulisnya putus asa jangan putus asa ya, terus komukasi dengan penerbit manapun agar ada solusi naskah itu tetap terbit,
Utk buku pelajaran Bhs.Inggris ... gambaran konten seperti apa yang paling laris? Selain syarat harus sesuai silabus tentunya
TOEF, dan sejenisnya, atau buku bahasa inggris untuk profesi tertentu.
Kalau misal saya mau masuk ke mayor, apakah nnti di penerbit mayor itu akan cetak ulang atau di aturan harus direvisi total?. Kalau total itu 100% isinya memamg harus baru at bagaimana ya?
Kalau cetak ulang maka harus ada surat pengakhiran kontrak dengan penerbit lama, jika revisi total bis dengan penerbit baru dengan kontrak baru.
Saya pernah diminta oleh penerbit melalui teman saya untuk membuat buka bank soal matematika SMP, sistemnya jual putus. Jadi saya hanya mengirimkan softfile nya saja, dan ternyata tidak dicetak biodata saya sebagai penulis. Apakah saya dpt mengirimkan draf itu kembali ke penerbit lain?
selama tidak ada perjanjian yang mengikat dengan pihak manapun bisa diterbitkan oleh penerbit mana saja. Sayang sekali ya naskah kok dijual putus, semoga harganya layak ya.
Nah kami ini menulis dri nol, didunia maya tulisan nol,grup ada tpi sedikit, riwayat menulis no, memang layak dpt nol. Tetapi kira2 seberapa peluang penulis pemula dpt bertahan di posisi ini, tolong tipsnya agar dpt terus naik tangga kesuksesan?
Jangan selalu diposisi Nol ya Pak, dulu semua penulis hebat mulai dari Nol, yang membuat mereka berhasil karen apantang putus asa, dan tidak berhenti menulis. penting bergaulah dengan penerbit sehingga tahu apa yang dimaui penerbit.. Semangat.

Disela-sela pertanyaan yang ada Bapak Joko Irawan Mumpuni memberikan kiat dalam menulis buku. Ada SOP yang mesti dilakukan.
SOP untuk memulai menulis buku :
a.     Step 1
Buatlah synopsis buku berisi konten buku secara singkat, prasyarat untuk membaca buku ini, tujuan buku ini di tulis, konsumen siapa yang dituju, Cukup buat dalam 1 paragraf dulu
b.     Step 2
Tentukan tujuan penulisan buku, buatlah kerangka karangan/outline, tujuan (pembatasan materi, menjaga alur materi dan menghindari penambahan materi yang tidak perlu)
c.     Step 3
Buatlah tujuan manfaat buku ini jika dibaca oleh pembaca. Sasaran pembaca dan prospek pasar.
d.     Step 4
Apa keunggulan buku ini menurut sudut pandang penulis, apabila pernah mengetahui buku pesaing dapat ditulis judulnya untuk informasi buku pesaing yang pernah terbit.

Kira2 materi atau naskah tulisan yang menarik untuk kalangan remaja usia SMK ini apa ya pak? Biar mereka makin tertarik dengan wirausaha
Buku kewirausahaan untuk SMK sudsah banyak kita temui termasuk dari Penerbit ANDI, namun buku buku tersebut diterbitkan seseui dengan kisi kisi kurikulum yang tidak da unsur motivasi sebagai wira usaha. Nah akan sangat baik jika ibu nulis buku pengayaan untuk SMK yang berisi motivasi menjadi pengusaha.

Bapak Joko Irawan Mumpuni  memberikan pertanyaan namun memiliki jawaban yang khusus dihati peserta, dan membuat peserta berfikir lebih dalam.
ADA 5 BURUNG BERTENGGER DIDAHAN POHON, 3 DIANTARA BERKEHENDAK UNTUK TERBANG, BERAPA SISA BURUNG YANG MASIH BERTENGGER?

Dikutip dari quote Al Ghazali “Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah”
Menulislah dan ciptakan karya untuk bisa terkenal dan diingat, jangan lupa carilah penerbit yang tepat. Penulis dan Penerbit bagaikan dua sejoli yang tak akan bisa hidup sendirian.


                                                     Peresume : Komang Elik Mahayani (elle.mahayani@gmail.com)

Mari Mengenal Blog


BLOG

Sudah saatnya kita sebagai guru, lebih inovatif dan kreatif. Di Era Industri 4.0 khususnya Bidang Pendidikan dituntut Guru harus bisa memanfaatkan peralatan teknologi yang ada. Disis lain guru harus mampu membuat proses pembelajaran berlangsung secara kontinu tanpa batas ruang dan tanpa batas waktu. Tentunya ini pilihan yang sangat extreme bagi guru. Guru-guru yang dengan kemauan tinggi untuk berubah ke arah pemanfaatan teknologi tentu akan bisa mengikuti. Namun, guru-guru yang dari awal sudah melakukan penlokana?? Bisa dibayangkan bagaimana jadinya.
Salah satu media yang bisa digunakan guru dengan azas berteknologi yakni Guru memanfaatkan Blog sebagai media diskusi guru dan siswa. Mari kita cermati apa itu Blog?.
Menurut Wikipedia Blog merupakan singkatan dari web log[1] adalah bentuk aplikasi web yang berbentuk tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web. Tulisan-tulisan ini sering kali dimuat dalam urutan terbalik (isi terbaru dahulu sebelum diikuti isi yang lebih lama). Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna Internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.
Bagi teman-teman yang masih belum memiliki blog dan berniat untuk belajar menggunakan blog. Berikut ini video cara membuat blog di blogger.



Thursday, 7 May 2020

Belajar Menulis Gelombang 10 Hari Ke-9



Mau, Tekun, Nekat, Dan Baca
Untuk
Memotivasi Menulis Buku dan Berprestasi




Semenjak mengikuti kegiatan Menulis bersama Om Jay, Kata-kata menulis, buku, penerbit, ide dan percetakan selalu melekat dalam otak saya. Seakan pada otak sudah termaping untuk berusaha menulis dan terus menulis setiap hari.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, Nara Sumber yang hadir berprofesi sebagai Kepala Sekolah. Beliau adalah Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd. Prestasi yang dimiliki sungguh luar biasa. Berikut prestasi yang diraih oleh Bapak Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd.

1.     Juara III Lomba Penulisan Buku tingkat nasional tahun 2004

2.     Juara III Lomba Karya Ilmiah Jawa Timur tahun 2005
3.     Juara II tingkat Nasional Lomba Keberhasilan Guru tahun 2006
4.     Terpilih sebagai peserta pertukaran tokoh masyarakat Indonesia-Amerika 2006
5.     Juara II  Lomba Penulisan Buku tingkat nasional tahun 2009
6.     Penulis artikel terbaik versi majalah Media Jatim tahun 2010 dan 2011
7.     Juara I Guru Prestasi Tingkat nasional tahun 2011
8.     Juara I Guru Prestasi tingkat Jatim tahun 2011
9.     Terpilih menjadi peserta kunjungan ke Australia tahun 2013
10.   Juara Lomba Best Practice Tingkat Nasional tahun 2014
11.   Juara 1 Menulis Legenda Pasuruan 2016
12.   Instruktur Nasional Kepala Sekolah Kurikulum 2013 Tahun 2015
13.   Narasumber untuk Instruktur Nasional Kurikulum 2013 untuk guru
14.   Narasumber penulisan buku tingkat nasional
15.   Narasumber penyusunan PKB Guru dan KS
16.  Penulis buku pelajaran, buku pendidikan dan buku umum dari penerbit UM   Press, Kanisius, Sidogiri Press, dll.
17.  Penulis artikel populer dalam majalah Media Jatim dan Radar Bromo serta   artikel ilmiah pada beberapa Jurnal.
18.   Juri Lomba Guru Prestasi Tingkat Jawa Timur selama 4 tahun
19.   Koordinator penilaian DUPAK Guru dan KS tingkat Jawa Timur

1 

Materi yang disampaikan Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd terkait dengan "Memotivasi Menulis Buku dan Berprestasi" menggunakan dua cara dengan slide/presentasi dan langsung menggunakan chat/obrolan pada grop. Persoalan yang paling utama dan sangat melekat pada masing-masing pribadi terkait dengan menulis buku adalah “Mereka Tidak Mau Menulis” bisa diartikan tidak berbuat. Sebagai guru ada alasan klasik kenapa tidak menulis yakni pertama, belum menemukan alasan mengapa harus menulis dan kedua, tidak tahu cara menulis. Lakukanlah trik mau, tekun, nekat, dan baca dalam menulis niscaya pasti akan berhasil. Mau artinya berusaha melakukan kegiatan menulis, tekun menulis lakukan secara terus menerus karena kita tau menulis adalah sebuah keterampilan, nekat , menulislah dg jelek dan jangan takut salah dan yang terakhir baca yang sudah ditulis. Selain dengan itu penulis harus didukung Baca, baca pengetahuan tentang teori menulis dan hal-hal lain yg berhubungan dengan menulis, yang salah satu sumbernya biasa diperoleh dari buku. Sudah selayaknyalah kita sebagai guru sedini mungkin harus belajar menulis. Selain dari identitas dan tugas yang melekat, ada beberapa hal yang bisa diberikan kepada orang lain dengan menulis bisa berbagi inspirasi, menyuarakan kebenaran dan menyebarkan ilmu. Bonus lain tentu sebuah popularitas dan Uang atau royalty.

Mulai hari ini, ubahlah mainset kita bergeraklah dari
seorang guru menjadi seorang penulis.

Setelah mempraktekkan ilmu mau, tekun, nekat, dan baca. Lakukanlah Pendalaman Materi dengan 3 P ( Paper, Parson, Place). Dengan didasari Paper ( mengumpulkan literature) kita akan bisa menentukan jenis buku yang mau di tulis. Sebagai langkah awal Bisa dimulai dengan menulis buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen. Lanjut  ke buku umum, atau buku-buku motivasi dan buku pelajaran. Berikutnya buatlah kerangka buku. Person banyak berdiskusi dengan orang-orang yang mengerti dengan apa yang akan kita tulis. Place, mendatangi tempat yg akan kita tulis. Setelah buku sempurna telah dibuat, langkah terakhir terbitkanlah buku. Ada dua cara yang kita bisa lakukan dalam menerbitkan buku, semua itu tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Menerbitkan buku dengan Major Publishing atau Self Publishing. Beliau menawarkan Untuk penerbitannya bisa melalui PB PGRI atau lewat pak imron atau lainnya (selengkapnya akan ditampilkan pada tanyangan slide).

pemaparan materi dari Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd telah usai, sesi pertanyaan dibuka untuk peserta pelatihan menulis. Berikut beberpa pertanyaan yang masuk dalam grop WA :

Bagaimana teknis menulis buku pelajaran yang menarik, kita tahu bahwa siswa milenial (meski tidak semuanya) kenyataannya kurang suka membaca buku, lebih menyukai youtube.
Mengapa seseorang bisa dg lancar berbicarA. Setiap bertemu langsung berbicara tanpa mikir. Tp ketika menulis? Padahal keduanya sama, yaitu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan.
Masalah siswa sekarang lebih suka youtube karena memang peradabannya sdh seperti itu. Setiap hari dan detik buka hp, bukan buka buku.
Kalau menulis buku dan digemari penerbit (buku umum) ya menulis hal-hal yg saat ini sudah hit. Mungkin tulisan ttg kiat belajar di rumah di saat pandemi virus corona lebih menarik. Atau tulisan yg berisi pengalaman orang2 sukses, bagaimana saat dia menjadi siswa juga menarik. Dicoba saka ibu. Jangan tajut jelek dan tdk laku.

Dari kecil saya suka membaca dan menulis dan slalu terputus ditengah jalan,  karena slalu mencari alasan dan slalu ada alasan itu,  salah satu nya adalah aturan pembuatan tulisan yang di paparkan bapak dalam ppt,  mohon di jelaskan lebih spesifik lagi karena saya slalu tergerak tetapi tidak bisa menulis... Terima kasih atas bantuannya pemahamannya
Begini. Antara otak kita yg berjalan lancar dg tangan kita yg mengetik, jauh lebih cepat otak kita.
Waktu menulis anggaplah sdg berbicara. Kalau ada yg salah saat mengetik, mungkin salah huruf, kurang huruf, kalimatnya kurang baik. Biarkan saja. Terus menulis jangan takut salah.
Setelah dianggap selesai, mungkin  4 sd 6 paragrag paragraf. Dibaca lagi sambil membenahi yg salah.
Masalah kemandegan, belum selesai berhenti, itu karena kurangnya motivasi dlm.menulis. kalau menulis artikel populer, cerpen, puisi hrsnya sekali duduk. Malanya sebelum menulis, penuhi dulu wawasan kita ttg apa yg akan ditulis.

1.Passion saya lebih ke buku non fiksi, karena pernah membuat karya fiksi, hasilnya terlihat sangat sinetron sekali pak,,Di buku non fiksi, apakah daftar pustaka disematkan juga dalam isi buku, ataukah cukup di sematkan di bagian daftar pustaka saja? Seperti ketika kita membuat artikel ilmiah.2. Biasanya untuk terbitan pertama, penerbit akan mencetak bukunya sejumlah berapa eksemplar pak? 3. Untuk di buku antologi itu kan berarti buku keroyokan dari banyak penulis, untuk pemberian sistem royaltinya bagaimana?4. Sebaiknya sebagai penulis pemula, ke penerbit mana ya pak kita dapat menawarkan buku kita?
     1.    Daftar pustaka hanya di akhir tulisan. Bisa juga dg diberi footnote
    2.    Tergantung prediksi penerbit. Maaf, buku saya yg akan diterbitkan Kanisius Jogja, masih   proses, akan diterbitkan 5rb eks. Kalau menerbitkan sendiri 5 eks bisa, 100 juga bisa
    3.    Biasanya penerbit major tdk menerbitkan buku antologi yg royoan
   4.    Sbg penulis pemula, ke penernit indie atau menerbitkan sendiri dulu. Artinya dg biaya sendiri..nanti kalau dirasa tulisan kita bagus, baru kirim le major. Ingat lihat visi penerbit

Untuk langkah awal yang bisa memberi semangat kita untuk kita bisa menemukan sesuatu agar bisa berlanjut ke menulis buku itu apa pak?
Seorang penulis itu hrs selalu mempersejatai dg sebuah pena. Sekarang bisa dg hp untuk mencatat ide yg muncul tiba2. Tdk boleh ditunda.

Selain motivasi terdapat juga passion dalam menulis. Bagaimana menyelaraskan dan mensinergikan keduanya.
Tentunya setiap orang berbeda. Gairah dan motivasi keduanya sijoli dan berjodoh. Ketika ada motivasi aku hrs nukis agar siswaku bangga, saat itu bisa muncul gairah. Gairah ini akan terus bertambah ketika tukisan kita terbit. Waduh, akhirnya terus menulis dan menulis.

Bagaimana tahapan dalam membuka dan menutup kalimat atau paragraf?
Paragraf itu gabungan kalimat yg koheren atau padu. Ada 3 cara agar padu, 1. Mengulang kata yg sebelumnya disebutkan, 2. Mengganti dg kata lain yg sama maknanya, dan 3. Memberi konjungsi antarkalimat. Paragraf itu terdiri atas 3 sd 5 kalimat, bisa 1 kalimat utama dg 2 kalimat penjelas.
Paragraf bisa dimulai dr kalimat utama, yaitu kalimat yg perlu dijelaskan dan masih bersifat umum. Misal Pandemi Corona menyengsarakan banyak orang. Kalimat selanjutnya adalah penjelas dr kalimat tersebut. Jd berakhir apabila dianggap penjelasnya sdh cukup. Usahakan maksimal 5 kalimat

Sejak kapan Bapak mulai menulis buku? Bagaimana Bapak mengatasi jika Bapak sedang banyak urusan/kegiatan/acara dan jg harus meluangkan waktu untuk menulis?
Saya menulis sebenarnya baru masuk menjadi mahasiswa jurusan bhs Ind dan mengikuti kegiatan HMP Himpunan mahasiswa penulis. Banyak menulis puisi dan cerpen serta artikel populer di majalah kampus.
Sejak menjadi guru 1989, pd tahun 1990 baru ada 1 buku yg terbit. Itu karena motivasi muncul karena hinaan salah satu guru. Waktu itubdia bilang, mana ada guru D3 tukisannya diterbitkan. Alhamdulillah saat itu buku saya diterbitkan oleh penerbit YA3 malang dan mulai saat itulah gairah menulis muncul.
Penulis itu hrs mau mebgorbankan waktu. Selain saya sekarang jd kepala sekolah, saya juga mengajar di 2 pondok pesantren dan 1 perguruan tinggi dan masih sempat melatih pencak silat. Kapan menulis. Setiap malam dan setiap ada waktu luang. Hrs ada waktu wajib, misal malam hari jam berapa sd berapa. Tanpa ada waktu wajib menulis, pasti sulit untuk menjadi penulis.

Jika ingin menerbitkan buku di penerbit mayor harus faham visi misi penerbit. Mohon mengupas beberapa penerbit beserta karakteristik tulisan yang diterima. Untuk kenaikan pangkat . Buku kumpulan puisi  dan cerpen karya sendiri,  masing2 buku isi berapa. Untuk bisa dinilai.
Untuk bisa ke major, usahakan kita sdh terkenal dulu. Untuk mengetahuinya bagaimans? Buka google, ketik nama dan asal. Kalau ada berarti sdh terkenal. Untuk mengetahui visi misinya ya buka google. Atau yg paling gampang datang ke toko buku. Cari buku yg selaras dg buku yg anda tulis. Nah. Kirim ke sana. Jangan mengirim buku agama ke balai pustaka misalnya, ya korim.ke.mizan. kha gitu. Lihat di buku 4. Kalau puisi lebih dr 20 nilai 2, kalai lebih dr 40 nilai 4. Kalau cerpen lebih dr 10 nilai 2 dan kalau lebih dr 20 nilai 4.

Untuk saat ini, saat karakter anak jauh berbeda dengan zaman dulu. Buku apa yang sebaiknya kita tulis yang bisa jadi bahan bacaan siswa sekaligus bisa untuk naik pangkat.
Ya. Tdk bisa kita hindari. Yg penting orientasi kita menulis adalah untuk berbagi ilmu. Itu dulu. Untuk naik pangkat adalah buku pendidikan dan pembelajaran dan buku pelajaran. Ini yg bisa dinilai

Karya Dr. H. IMRON ROSIDI, S.Pd., M.Pd

Motivasilah diri untuk menulis buku, terapkan kiat Mau, Tekun, Nekat, Dan Baca. Jangan hanya menjadi seorang guru, Ubahlah mainset diri dari guru menjadi penulis. Terapkan 3P dalam pendalaman kita dalam menulis (paper,person,place). Tunjukkanlah prestasi dengan karya buku dan  jadikan penilaian negatif sebagai cambuk untuk membuktikan bahwa tulisan selanjutnya akan lebih bagus.



                                 Peresume : Komang Elik Mahayani (elle.mahayani@gmail.com)


Wednesday, 6 May 2020

Belajar Menulis Gelombang 10 Hari Ke-8



Terbitkan Bukumu, Catatkan Sejarah


Siapa sih yang tidak ingin dikenang??? Bingung bagaimana cara agar kita bisa dikenang sepanjang masa? Kali ini kita akan mendapatkan tips dan trik dari Nara Sumber yang hadir pada Pelatihan Kegiatan Menulis yang diselenggarakan oleh Om Jay. Beliau adalah Farrah Dina. Dengan umur yang masih muda, beliau memiliki segudang prestasi yakni Penerima beasiswa dari Kementrian Pendidikan Jepang (Monbukagakusho) untuk program Teacher Training (2014), Perwakilan Indonesia dalam program Global Women in Management di Washington DC, USA (2009), Lulusan Terbaik Fakultas Pertanian IPB (2003), Mahasiswa Terbaik Nasional Tingkat II (2002), Mahasiswa Terbaik IPB (2002). Saat ini Farrah Dina menjabat sebagai Pendiri & Ketua Yayasan Tangga Edu, aktif sebagai penulis dan sebagai pelatih guru.

Apa yang bisa kita tinggalkan untuk dikenang?? Dengan Buku. Di dalam buku akan memuat semua pikiran, perasaan yang bersifat abadi sehingga bisa dikenang sepanjang masa. Terdapat dua persoalan lain muncul yakni menulis dan menerbitkan buku. Mari kita kupas dengan cermat. Menulis adalah membuat karya, sebagai penulis tentu karyanya ingin bermanfaat bagi masyarakat. Sehingga penulis memerlukan pembaca. Akibat dari karya yang baik tentu akan menuju ke Penerbitan. Jadikanlah itu sebagai tantangan menuju ke penerbit yang besar.

Menulis, kemudian diasah dan bisa di terbitkan dengan sangat baik. Menurut Farrah Dina (4 R ) dalam menulis  :
                   1.         Renjana
Passions/ Kesukaan. Apapun yang disukai itu jelas tanpa paksaan. Sesuatu yang sangat menarik, sehingga proses melakukannya itu dengan menyenangkan. Semua tulisan akan mengalir secara mudah jika sesuai dengan renjana kita. Apabila dalam menulis menemukan kendala dan kesulitan untuk menuntaskan tulisan secara terus menerus bisa dipastikan tidak sesuai dengan renjana kita. 
2.     Rutin
Tidak hanya rutin menulis, rutin membaca. Dengan banyak membaca akan bayak menimbulkan ide untuk menulis. Bedakan antara kosakata membaca dan menulis. Sesuaikan genre yang ditulis dengan genre yang dibaca. Perlu diingat penulis yang hebat memiliki waktu dan tempat yang khusus untuk menulis.
3.     Review
Lihatlah kembali apa yang kita tulis. Proses terpanjang adalah pada review. Tahap awal jika ada ide tulislah dan biarkan mengalir begitu saja. Review penting juga untuk melihat market kita. Perlu diingat jika kita mereview sendiri, tentu akan beranggapan karya kita sudah baik, tapi………
4.     Ruang Bagi Pembaca
Lakukan review dari pembaca yang akan kita tuju. Ruang pembaca dapat diartikan penulis memerlukan feed back atau umpan balik dari pembaca ke arah hasil tulisan yang maksimal. Ruang pembaca hendaknya tidak mempengaruhi jati diri dari seorang penulis.  

Ada beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta dalam kegiatan menulis ini, berikut pertanyaan dan jawaban dari Farrah Dina :

Apakah kita harus melalui tahapan 4R itu agar buku yg diterbitkan berkualitas?
Tidak selalu seperti itu. Ini dirangkum dari pengalaman-pengalaman penulis yang hebat, yang sudah menerbitkan banyak buku dan disukai. Mereka akan menulis yangg betul-betul sesuai degan renjananya lalu terbiasa menulis (rutin). Pada awal menulis buku, jangan kita dipusingkan dengan editing & lain-lainnya yang nanti justru akan menghambat jadinya sebuah naskah. Tapi setelah itu, baru dilakukan review berulang (dan ini proses panjang). Seringkali bahkan naskah final sangat berbeda dr naskah awalnya. Kekuatannya di review ini. Untuk ruang pembaca, tujuan kita menulis adalah untuk dibaca jadi perlu mendengar masukan dari pembaca juga. Tapi jangan sampai kita juga hanyut menulis hanya untuk memenuhi kebutuhan pembaca, nanti tidak timbul kebahagiaan. Selamat terus menulis.

Bagaimana teknis / langkah mengubah tulisan dr best practice menjadi tulisan populer? 
Banyak buku-buku yang sekarang best seller adalah buku-buku ilmiah tapi disajikannya dalam bentuk populer tidak penuh dengan data-data yang memusingkan. Sebaiknya ibu membaca contoh buku-buku populer yang berdasarkan pendekatan ilmiah. Dari buku-buku ini yang saya perhatikan mereka akan membahas "Permasalahan" lalu "jawabannya" dengan sedikit-sedikit memasukkan teori-teori pendukung. Jadi yang dibahas bukan teroinya, ada unsur emosi kuat yang dibangun sehingga ada konektivitas dengan pembaca.
Beberapa contoh buku ilmiah dibuat populer (maaf yang terbayang saat ini buku-buku terjemahan), seperti: Good to Great (penelitian dari 500 perusahaan sukses dunia, The Miracle of Endorphin (pendekatan psikologis untuk metode pengobatan), The Leader in Me (praktik-praktik di sekolah yang menerapkan 7 Habit).
Bagaimana menampilkan "voice" pada buku populer atau membangun emosi, misalnya dengan memasukkan isi wawancara, atau data-data non formal yg lebih hidup.

Sebagai pemula saya masih bingung menentukan passion saya dimana. Bagaimana kita mengetahui passion kita dengan mudah.
Tidak sedikit orang yang merasakan hal yang sama dengan ibu. Memang ada orng-orang yang dari awal sudah tau apa bidang menulis yang akan digelutinya dan ada juga yang butuh waktu. Cara paling ampuh adalah dengan terus menulis, nanti akan kelihatan kecenderungan kita. Bahkan, dengan mengumpulkan bank tokoh, situasi, pengalaman ke dalam bentuk rekaman/tulisan pun nanti akan terlihat apa yang menjadi renjana kita. Kita bisa lihat dari bank yang sudah kita kupulkan, apa sih yang menarik untuk kita yang mendorong kita untuk mengungkapkannya, nah itulah renjana kita. Cara lain paling mudah mengetahuinya adalah dengan melihat mana tulisan yang paling cepat saya selesaikan dan kita merasa mudah.

Menanyakan tentang pembuatan buku anak-anak. Misalnya kita menulis berdasarkan apa yang kita lihat, kemudian kita tambahkan dengan khayalan dan imajinasi kita boleh tidak. Jadi tidak pyur fiksi. Nah yang sperti itu termasuk kategori buku apa Bu.
Boleh sekali memasukkan imajinasi ke dalam buku anak. Justru imajinasi itu kekuatan dari buku anak. Seperti binatang berbicara, anak pergi ke ruang angkasa, berteman dengan robot, itu adalah imajinasi.
Yang tidak boleh adalah takhayul dan imajinasi yang mengandung kekekrasan. Saya pribadi keberatan dengan anak durhaka menjadi batu, siasat membuh raksasa seperti dalam legenda asal usul Danau Batur, dll. Sikap jahat akan ada akibatnya, dan bisa dalam bentuk imajinasi tapi sebisa mungkin berkaitan dengan perbuatannya & tidak berlebihan.

Apa yang ibu  lakukan sehingga dapat  menemukan passion ibu yaitu menulis buku anak?
Saya menemukan renjana saya berawal dari pendidikan sy di Amerika & Jepang yang di mana mereka sangat serius memikirkan buku anak. TIdak halnya di Indonesia. Sebenarnya ini juga berawal dari kebutuhan, saat di Jepang anak saya masih TK dan akan kembali ke Indonesia masuk SD. Jadi saya harus mengajarkan membaca. Sy minta dikirimkan buku2 dari Indonesia tapi saya tidak puas. Lalu saya menulis buku sendiri dan ternyata itu menyenangkan buat saya dan saya merasa bisa memberi solusi pada permaslaahan yang ada.
Selanjutnya saya juga melakukan penelitian di bidang membaca usia SD, dan salah satu hal yang dibutuhkan adalah buku anak berkualitas. Di pasar, buku anak berkualitas itu biasanya harganya mahal. Ini yang menjadi motivasi besar, menciptakan buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau. Ini yang menjadi motivasi terbesar dan itulah passion saya. Walaupun saya tetap memaksakan diri untuk terus menulis genre lain.
Karena rutinnya saya menulis buku anak dan pendidikan, saya agak meninggalkan bentuk tulisan ilmiah. Pada saat saya mengalami ini, saya "memaksa" diri saya untuk mengirimkan rencana penelitian utk mendapat beasiswa. Denagn tenggat yang jelas akan jadi motivasi untuk kita. Ini juga perlu dilakukan. Alhamdulillah dengan research plan yg sy buat, sy bs diterima di univ di jepang.

Apa yang melatarbelakangi ibu mendirikan Tangga Edu dan juga bisa menjadi penulis
Yang menjadi motivasi saya adalah bagaimana memberi manfaat sebesar mungkin untuk negeri Indonesia tercinta ini.

Bagaimana memanage 4 R ini agar menjadi sebuah kesatuan utuh untuk saling melengkapi dalam menulis?
LAKUKAN... itu kunci utamanya pak... Dengan melakukan maka saya yakin Bapak akan menemukan polanya tersendiri. Yang perlu diingat adalah di awal, tulis dulu apa yang mudah untuk kita, tapi perlu dipaksakan juga agar menjadi rutinitas. Dengan begitu kita akan sangat terbiasa.... Saat ingin dipublish ke orang lain, maka perlu dilakukan review berulang-ulang. Jangan lakukan review saat menulis di awal, karena nanti tidak akan jadi karya krn kita berkutat dengan banyak hal. Selamat menulis

Apakah seorang penulis harus fokus pada satu passion atau genre tulisan agar tulisannya betul-betul baik...dan memang ada tdk pngruh taste/rasa tulisan seseorang yang suka mngrjkn dua tulisan(fiksi dn non fiksi) secara bersamaan?
Sebagai awal, tulis dulu sesuatu yang mudah bagi kita, yang sesuai dengan renjana kita, yang kita senang saat menuliskannya. Ini gunanya untuk memberi reward terhadap diri sendiri. Dengan jadinya naskah yang kita sukai, itu akan menjadi bahan bakar bagi kita untuk terus menulis. Jika di awal kita sudah tidak cukup motivasinya, maka akan terhmbat, Tulislah sesuatu yang benatul2 isi kepala atau hati kita yang ingin disampaikan ke orang lain.
Selanjutnya, kita menyesuaikan diri dan bisa menulis dengan genre apapun, tentu dengan latihan dan pembiasaan. Bahkan kita pun harus bisa menulis sesuai dengan kebutuhan pembaca... Ini yang nantinya perlu dikuasai setelah kita menguasai sedikit hal yang menjadi kekuatan utama kita. Semangat menulis

Ada 4 R, salah satunya adalah Renjana, saya kurang pahan dari bahasa apa itu Renjana dan mengapa ibuk letakkan di poin paling atas?
Renjana adalah passion, ketertarikan kita pada satu hal yang kita akan mengerahkan energi kita untuk itu dengan senang hati. Menulis sesuatu yang sesuai dengan renjana kita, itu akan menjadi kekuatan di awal. Manusia memerlukan reward langsung. Saat kita menulis sesuatu yang sesuai dengan minat kita, maka kita akan menikmatinya & hasilnya pun akan cepat jadi. Hasil tulisan yang jadi ini menjadi reward sendiri untuk kita sehingga kita akan terus termotivasi untuk menulis. Setelah itu, barulah berkreasi dengan berbagai genre agar kita menguasai  menulis berbagai hal.

Bagaimana caranya agar dapat menerima tanggapan pembaca yang negatif pada tahap ruang bagi pembaca?  Bagaimana tips mengubah penulisan ilmiah menjadi penulisan populer?
menerima tanggapan negatif memang tidak mudah. Jangan sampai juga itu medemotivasi kita dan menghilangkan jati diri kita. Saat kita mendengar tanggapan pembaca, yang perlu kita tahu sebenarnya adalah penangkapan pembaca terhadap hasil tulisan kita. Apakah sama seperti apa yang ingin kita sampaikan? Jika berbeda, apa yang berbeda (tentu perlu ada ruang imajinasi yang berbeda antara pembaca dan penulis). Kemudian "keseluruhan" atau "detail" apa yang tidak disuka. Kalau tidak suka karena selera yang berbeda, maka bisa jadi pelajaran bahwa org dgn persona seperti dia bukanlah target pembaca kita.
Jika tidak sukanya karena "persepsi" atau "terjemahan" yang berbeda dari yang sebenanrnya ingin kita sampaikan, maka mungkin ada penulisan yang perlu diperbaik.

Pertanyaan saya kalau saya merasa renjana (passion)  saya membuat buku pelajan fisika. Apakah berarti sebaiknya saya menulis buku pelajaran fisika sj? Krn sy kalau mencoba menulis buku fisika terasa lebih ringan dibanding mencoba menulis  artikel dll.
Untuk tahap pertama maka sebaiknya pilih buku fisika. Ini untuk menciptakan reward bagi diri kita di awal agar kita terus termotivasi untuk menulis. Namun setelah itu lebarkanlah sayap... Coba buat artikel lain yang tetap mengaitkan dengan fisika (ilmiah menjadi populer) dan berkreasilah dengan genre2 lain... Sebagai tambahan, dapat dibaca pada jawaban pertanyaan kedelapan.

Sebelum menentukan R(uang) pembaca apakah kita perlu meneliti atau survey untuk calon pembaca buku kita. Lalu, bagaimana sebaiknya jika kita berharap pembacanya tidak terlalu spesifik?
Pada tahap awal kita menulis maka sebaiknya kita menulis untuk tujuan diri kita. Apa yang ingin kita sampaikan. Agar keluar jati diri kita sambil kita melihat yang cocok dengan tulisan kita itu pembaca yang bagaimana. BAru kemudian kita berkembang, mulai menulis berdasrkan "pesanan" artinya kita tentukan dulu sasaran pembacanya. Misalnya menulis untuk remaja maka ada bahasa2 yang perlu disesuaikan, maka kita menulis dengan "frame" pembaca di kepala kita... Nanti kita minta pendapat dari pembaca yang dituju sesuai sasaran.

Jika kita ingin dikenang sepanjang masa, ciptakanlah karya berupa buku. Namun ingat, dibalik buku dari penerbit yang besar ada penulis sejati. Dibalik penulis sejati ada tulisan yang luar biasa. Tulislah terus dan terus dengan mengingat 4R.





Peresume : Komang Elik Mahayani (elle.mahayani@gmail.com)

Kreatifitas Di Balik Pandemi


Kreatifitas Di Balik Pandemi

Corona. Pertama kali saya dengar kata itu di berita. Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19.  Penyebaran pertama COVID-19 bertempat di Wuhan.

Sungguh memilikukan keadaan di Wuhan pada saat itu, Di Televisi dapat dilihat bagaimana kroditnya rumah sakit. Pasien yang datang tak terbendungkan, Tenaga Medis yang bekerja tanpa kenal lelah dan waktu demi melayani pasiennya. Berpacu melawan wabah virus yang pergerakannya sangat cepat. Musuh tak terlihat begitu saya mengumpamakannya. Saya yang berada di Bali tepatnya di Kabupaten Jembrana hanya bisa berempati akan keadaaan yang terjadi disana.

Makin lama pergerakan virus itu makin cepat. Setelah berkembang di Wuhan, Covid-19 menyebar ke Italia, Amerika Serikat dan beberapa Negara lainnya. Awalnya saya masih berfikir sempit, jarak antara Bali dan negara-negara itu sangat jauh. Tidak mungkin rasanya di tempat kami ini akan terjangkit Covid-19.
Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin 2 Maret lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun.

Kasus pertama tersebut diduga berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta pada 14 Februari. (dikutip dari https://news.detik.com/berita/d-4991485/kapan-sebenarnya-corona-pertama-kali-masuk-ri). Langsung saja saya mengalami syok, Covid-19 sudah di Indonesia??? Tapi dalam diri tetap saja masih membesarkan hati, itu di Jakarta tidak di Bali.

Akhirnya keresahan saya terjadi. Tanggal 16 Maret 2020 Pemerintah Provinsi Bali  mengeluarkan surat edaran untuk melaksanakan pembelajaran di rumah bagi satuan pendidikan. Hal ini dilakukan guna mencegah penyebaran Corona Virus Disease ( COVID-19). Semua proses pembelajaran yang biasanya terjadi di sekolah segera terhenti. Tidak ada lagi sapaan siswa di pagi hari. Tidak ada lagi tangan siswa yang hendak memberi salim kepada para guru. Kelas kosong. Sekolah serasa mati, tanpa penghuni.

Metode mengajar yang dahulunya secara tatap muka, tergantikan dengan menggunakan daring. Berbantu teknologi yang canggih saat ini kegiatan mengajarpun bisa terlaksana. Setiap harinya siswa diberikan materi oleh guru dan beberapa tugas yang harus mereka kerjakan secara daring juga. Saya seorang Guru Bimbingan TIK Kelas IX, secara pribadi saya mulai berfikir apa yang bisa saya lakukan dalam musim pandemi ini agar tidak membuat mereka tertekan. Oke sippp saya mendapatkan ide.

Di minggu pertama musim pandemi saya berencana akan membuat “Video Ajakan Dalam Menangani Covid-19 dan Kegiatan Di Rumah Bersama Siswa Kelas IX A”. Saya meminta perwakilan kelas IX A untuk memasukkan saya ke dalam WA Grop kelasnya. Langkah awal saya tanya kepada para siswa, “apakah selama ini kalian banyak memiliki tugas??” Dengan cepat salah satu siswa membalas. “Iya Bu, kami memiliki banyak tugas”. Saya bertanya lagi “jika saya memberikan kalian tugas lagi, apakah kalian semakin terbebani?”. Banyak siswa yang menjawab “Iya bu pasti ada beban”. Akhirnya saya menceritakan project yang akan saya buat. Dengan menginformasikan tentang alur video yang akan saya buat mereka merasa sangat senang. Beberapa siswa merekam video sesuai dengan gayanya sendiri, yang penting pas dengan topik yang saya informasikan.
  


Berikut Video Kolaborasi saya dengan Siswa Kelas IX A

Terimakasih kelas IX A, Kalian Hebat. Mari kita terus ciptakan kreatifitas dalam diri. Selalu diam dirumah. Utamakan Sehat dan Selamat di dalam Pandemi ini.

Ide kreatif saya muncul lagi, kali ini project akan dikerjakan oleh Siswa Kelas IX B. Saya berkeinginan membuat " Video Puisi ". Tapi saya bukan termasuk Guru yang pintar bermain kata-kata. Saya mencoba memahami tentang Covid-19 dan saya tuangkan dengan versi kata-kata saya. Kata demi kata tersusun dalam kalimat. Akhirnya puisi itu selesai juga. Saya meminta guru Bahasa Indonesia di Sekolah untuk mengedit puisi yang saya buat. Karena saya tidak paham terkait dengan kaidah-kaidah puisi.

Covid-19

Wabahmu melahirkan pandemic

Ancamanmu Meluluhlantakkan Negeri

Apakah Salah Kami ?

Haruskah Yang Tak Tahu Di Marahi 


Senjata Mahkotamu

Layaknya serdadu semangatmu menyerbu

Meruntuhkan Dunia Kelam Kelabu

Seluruh Kota Beku Karnamu


Pendekatan yang saya lakukan untuk siswa kelas IX B juga persis sama dengan pengalaman terdahulu. Saya meminta 8 orang siswa membantu saya untuk melantunkan puisi itu. Awalnya mereka malu, tapi dengan ajakan saya mereka menerimanya.

Mari kita lihat videonya



Terimakasih Siswa Kelas IX B kalian Hebat…Selalu Semangat dan Jaga Kesehatan