Selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal

Mengetahui Tempat Menakjubkan Membuat Hati Bahagia

Traveling Salah Satu Cara menghilangkan Penat

Mengajar itu Pekerjaan yang Menyenangkan

Dunia Penuh Canda Tawa Peserta Didik

Friday, 22 April 2022

AKSI NYATA 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

KREATIF TULISKAN IDE LEWAT DIGITAL

(katulidedi)

A.    PERISTIWA (FACT)

Literasi adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan informasi dengan memiliki kemampuan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan membaca dan menulis. Dalam lingkup sekolah terdapat program Gerakan literasi sekolah yang sangat penting di terapkan pada bidang pendidikan, karena program tersebut mampu untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam membaca dan menulis. Namun seiring dengan perkembangannya, gerakan literasi sekolah dalam ruang lingkup pendidikan tentu banyak macamnya. Ada literasi matematika, literasi sains, literasi membaca, literasi menulis, literasi digital.

Masalah yang dialami siswa di SMP Negeri 1 Negara saat ini masih berkutat pada rendahnya minta baca dan menulis. Budaya membaca serta kemampuan siswa untuk memahami dan menggunakan informasi dari beberapa sumber digital masih dianggap rendah. Salah satu pemicu yang tidak bisa ingkari adalah karena efek penyebaran virus Covid-19 yang sudah membuat terjadinya learning lost pada siswa.

Pada aksi nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada siswa diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat siswa dalam berliterasi dengan harapan keterampilan baik membaca, menulis maupun berteknologi akan semakin membaik. Rancangan program literasi yang perlu disusun serta disiapkan guru harus sesuai dengan kondisi dan perkembangan siswa kelas awal agar pembelajaran yang dilakukan benar-benar berguna dan bermanfaat bagi siswa. Pembelajaran literasi yang menyenangkan dapat diupayakan melalui media dan sumber belajar yang menarik.

Melalui program Kreatif Tuliskan Ide Lewat Digital (katulidedi) yang akan dilaksanakan sebagai kegiatan intrakulikuler yang disisipkan pada mata pelajaran Informatika berusaha mengkemas dengan mengajak siswa untuk menuliskan kembali atas apa yang mereka baca kedalam platform digital (Blog). Mengingat perkembangan teknologi mengajak siswa dan guru lebih sering menggunakan perangkat/ device. Kepemilikan gawai dan pemanfaatan sangat erat dalam kehidupan sehari-hari yang kitab isa manfaatkan kedalam sebuah pembelajaran sebagai bentuk literasi teknologi yang telah diaktualisasikan.

Hasil dari aksi nyata dari program Kreatif Tuliskan Ide Lewat Digital (katulidedi) yakni Menciptakan Budaya Literasi di Sekolah; Meningkatkan kreativitas siswa; Mengajak siswa berpikir kritis menggali ide; Meningkatkan minat membaca dan menulis; Terampil menggunakan teknologi.

Poin-poin mana dalam komponen Profil Pelajar Pancasila yang dapat dikembangkan melalui program/kegiatan Katulidedi yakni Menumbuhkembangkan kepemimpinan siswa mendorong untuk mengambil kontrol dan bertanggung jawab pada proses pembelajarannya sendiri dengan membuat blog sebagai langkah kreatif menuangkan ide lewat digital, Siswa berpikir kritis membuat layout blog agar menarik.

Dengan terlaksananya program ini dirancang untuk memberikan kebebasan siswa dalam menuangkan ide, berkreasi dan berinovasi atas apa yang mereka baca, mereka lihat yang kemudian mereka tuangkan kedalam bentuk tulisan dalam versi digital. Dengan ungkapan sastrawan terkenal Indonesia Pramoedya Ananta Toer mengajak menulis adalah bekerja untuk keabadian akan semakin meyakinkan pendidik agar menuntun siswa mau mengembangkan keterampilan menulis yang mereka miliki. Pelaksanan kegiatan yang rutin dan berkelajutan diharapkan mampu meningkatkan minat dan bakat sehingga dari pembiasaan akan menjadi sebuah budaya.

 

Rencana Dan Pelaksanaan Program Kreatif Tuliskan Ide Lewat Digital (katulidedi)

Pelaksanaan program Kreatif Tuliskan Ide Lewat Digital (katulidedi) diawali dengan melakukan kegiatan sosialisasi bersama dewan guru terkait masalah turunnya minat siswa dalam membaca dan menulis serta berteknologi. Program ini akan mengajak siswa dalam pembelajaran informatika mencoba mempraktekkan menulis pada platfrom blog.








Setelah melakukan sosialisasi tentu program ini bisa berjalan dengan berkolaborasi dengan seluruh wali kelas IX. Siswa akan dipantau terkait kendala-kendala dan masalah yang ditemui baik dalam mencari ide untuk ditulis. Tak lupa juga perlu dukungan guru Bahasa Indonesia terkait penulisan hasil karya yang akan dibuat ke dalam blog dan secara teknis proses pembuatan pada blog akan dibantu oleh guru Informatika.





Sebelum melaksanakan program Program Kreatif Tuliskan Ide Lewat Digital (katulidedi) melakukan pemetaan terhadap aset. Kami menyadari secara aset manusia sekolah kami memiliki guru yang berkompeten untuk melaksanakan program ini, aset lingkungan sekolah yang baik dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman serta aset fisik yakni sekolah kami memiliki laboratorium komputer yang menunjang berjalannya program secara baik dan maksimal.



Pembuatan produk berupa blog yang dihasilkan oleh siswa tentu didasari sebagai perwujudan promosi dari siswa baik suara, pilihan mereka


Pada Program Kreatif Tuliskan Ide Lewat Digital (katulidedi) mengharapkan siswa dalam setiap minggu akan membuat sebuah postingan blog yang akan dilakukan secara berkesinambungan yang merupakan salah satu wujud promosi atas kepemilikan siswa. Dan diakhir terciptanya sebuah hasil karya siswa dari apa yang mereka baca, mereka lihat yang dituangkan kedalam bentuk tulisan pada platform blog.



B.    PERASAAN (FEELING)

Perasaan saya dari awal mencoba menggagas program ini sangat tertantang, bagaimana program yang dirancang ini akan memberikan manfaat bagi siswa di sekolah tempat saya mengajar. Berusaha untuk mencari beberapa alternatif sesuai dengan keinginan siswa agar nantinya program yang dirancang tidak menimbulkan tekanan kepada siswa namun disisi lain fokus literasi bisa tercapai sesuai sasaran yang kita gagas.

Dengan adanya kolaborasi setelah beberapa kali program berjalan perasaan yang saya rasakan bahagia, terlebih lagi keberanian siswa untuk mempresentasikan atas hasil postingan blog mereka terhadap apa yang mereka baca, mereka lihat yang mereka representasikan kedalam bentuk kata-kata mereka sendiri. Dengan respon yang baik dari warga sekolah terutama siswa membuat saya ingin terus terlibat dalam pengelolaan program ini agar lebih baik lagi ke depannya dan dengan harapan dapat terus berkelanjutan.

 

C.    PEMBELAJARAN (FINDING)

Pembelajaran yang di dapatkan dari aksi nyata adalah mampu melaksanakan Gerakan literasi pada siswa yang merupakan salah satu program pemerintah yang kita kemas sesuai dengan minat dan perkembangan jaman. Profil Pancasila secara bertahap mampu direalisasikan pada program-program aksi nyata yang telah dibuat.

Dalam pengelolaan program dengan menggunakan alur BAGJA dalam hal pemetaan aset sekolah yang ada. Yang terpenting tanpa adanya koordinasi serta kolaborasi dengan seluruh warga niscaya program tidak akan bisa berjalan dengan sempurna.

 

D.    PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

D. Rencana pelaksanaan program kedepan, literasi tidak hanya dikembangkan dalam bentuk blog saja, namun dengan memanfaatkan teknologi guna melatih keterampilan siswa untuk cakap berteknologi sasaran literasi kedepan akan menggunakan aplikasi yang berbeda dan yang pasti menarik bagi siswa, misalnya saja membuat infografis. Selain itu diperlukan kolaborasi semua pihak dan yang terpenting konsisten dalam menjalankan program untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

 

 

 


Monday, 21 March 2022

3.1.a.10. Aksi Nyata Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Pengambilan Keputusan disaat Pemberian Tugas Dalam Pembelajaran Daring

Latar Belakang

Situasi pembelajaran akibat adanya penyebaran virus Covid-19 menjadi tak menentu. Diawal pembelajaran dilaksanakan secara daring, begitu penyebaran Covid-19 menurun pembelajaranpun berganti dengan pelaksanaan PTMT. Namun diawal bulan lalu karena penyebaran Covid-19 varian Omicron meningkat menyebabkan siswa kembali melaksanakan pembelajaran secara daring. Dengan perubahan yang begitu cepat tentu proses pembelajaran harus mengikuti dinamika situasi. Bagi siswa meraka sudah bertemu dan belajar di kelas sudah membuat rasa nyaman, namun kembali daring memberikan dampak kepada siswa.

Dengan efek kembali daring membuat kembali kemerosotan siswa dalam proses pembelajaran utamanya dalam proses pembuatan tugas yang digunakan guru untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang terjadi. Pada pembelajaran kembali daring proses pengumpulan tugas tentu dilakukan secara daring juga. Kenyataan dilapangan pengumpulan tugas secara daring menimbulkan masalah pada beberapa siswa. Siswa yang tidak memiliki paket/kuota, siswa yang berada pada lingkungan tidak baik sinyal/jaringan.


Proses Pembelajaran Secara Daring

Memberikan Tugas Secara Daring

 

 

Alasan Melakukan Aksi

Peristiwa diatas merupakan dilema etika. Guru harus mengukur ketercapaian hasil belajar melalui tugas namun karena keadaan siswa membuat tugas secara daring tidak bisa secara semestinya berjalan sempurna. Paradigma yang terjadi pada kasus ini adalah Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Secara ketentuan guru harus bersikap adil kepada siswa agar mengumpulkan tugas secara daring namun karena beberapa siswa tidak bisa melakukan car aitu, guru akan memberikan kompensasi dan memberi rasa kasihan kepada siswa untuk mengumpulkan tugas mereka dengan cara mengumpulkan langsung datang ke sekolah dan menyerahkan kepada guru yang bersangkutan.

 

 

Perasaan (Feeling)

Setelah mempelajari modul 3.1 saya merasa bisa mengaplikasikan apa yang saya dapat, merasa senang dan termotivasi untuk melihat permasalahan dengan bijak dan mampu pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan. Kita sebagai guru diharapkan lebih luwes akan kondisi yang ada pada siswa namun tetap memegang teguh proses pembelajaran dan penilaian dilakukan dengan tepat dan baik.


 

Pembelajaran (Findings)

Dengan hasil pengamatan dan masukan dari beberapa guru, pihak sekolah akan mengambil sebuah keputusan dengan mempertimbangkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Sebagai seorang guru saya harus lebih peka melihat keadaan yang sedang dialami, sehingga kendala yang dihadapi dapat di selesaikan dengan lebih cepat, menemukan solusi terbaik dan keputusan yang berpihak kepada murid.

 





LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Pengujian Paradigma Benar lawan Benar yang terjadi pada kasus ini adalah Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Prinsip pengambilan keputusan, Berpikir Berbasis Rasa Peduli

 

 

Pengumpulan tugas dilakukan dengan moda daring


Penerapan Kedepan ( Future)

Dengan mempelajari modul 3.1 mengajak saya secara pribadi untuk mengkaji permasalahan yang terjadi dengan tidak terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan. Selalu memperhatikan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan dengan harapan kita bisa bijak dalam mengambil sebuah keputusan dan memberikan kebaikan bagi semua pihak.




 

 

Friday, 18 February 2022

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri

 

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri




Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Sebagai seorang guru sudah pasti filosofi Pratap Triloka yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara sangatlah relevan dalam mengambil sebuah keputusan.

Pratap triloka yang diusung oleh KHD antara lain :

1.      Ing ngarsa sung tuladha, didepan sebagai pendidik mampu memberikan teladan

2.      Ing madya mangun karsa, ditengah sebagai pendidik berusaha untuk membangkitkan semangat

3.      Tut wuri handayani, dibelakang sebagai pendidik selalu memberikan dorongan untuk bergerak maju demi mencapai cita-cita.

Guru sebagai teladan yang akan memberikan contoh kepada siswanya, dalam proses mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diharapkan mampu memutuskan segala sesuatu dengan baik dan bijak tentu berlandaskan nilai universal, keberpihakan kepada siswa serta keputusan yang diambil harus bertanggung jawab. Melalui langkah-langkah pengambilan keputusan yang sistematis dan bijak maka niscaya para siswa kita akan meniru langkah bijak yang pendidik lakukan.

Dalam proses pengambilan keputusan tentu pendidik berusaha untuk membangkitkan semangat / ing madya mangun karsa dalam peserta didik, bagaimana mereka bisa tetap menampilkan nilai-nilai universal yang ada

Hasil sebuah keputusan yang dihasilkan dengan bijak mampu memberikan dorongan agar siswa bisa bergerak maju menuju cita-cita yang diharapkan, yang pastinya keputusan yang baik akan berpihak kepada siswa. 

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai- nilai yang tertanam dalam diri kita akan bisa digunakan sebagai acuan kita untuk mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang bijak, baik dan efektif manakala dalam keputusan tersebut mengandung nilai-nilai kebajikan yang universal seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid.


Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Dalam kegiatan terbimbing terkait materi pengambilan keputusan yang berkaitan denga “coaching” sungguh sangatlah membantu bagi saya pribadi dalam mengambil keputusan yang baik. Bagaimana kita bisa mengambil keputusan yang tepat dan bijak serta efektif dengan melihat masalah atau kasus yang kita hadapi terlebih dahulu kemudian akan dilakukan tahap  mempertimbangkan faktor-faktor yang ada serta diakhir akan dicarikan solusi yang tepat bagi masalah yang kita hadapi. 

Coaching  membantu guru menjalankan proses menuntun murid mendapatkan kemerdekaan belajar dan melejitkan potensi yang dimilikinya. Eksplorasi potensi murid terjalankan dalam proses coaching. Peran besar seorang guru untuk membangkitkan semua potensi yang mereka miliki untuk mengatasi masalah yang dimilikinya.

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Bagi saya pribadi pengelolaan dan menyadari aspek sosial emosional sangat berpengaruh akan sebuah keputusan yang diambil. Terlebih lagi di dalam pembelajaran di kelas tentu kita akan menemukan berbagai macam kasus yang dilakukan oleh siswa dan apabila secara sosial emosional kita tidak mampu mengendalikan maka proses pelaksanaan pengambilan keputusan tidak akan sempurna sesuai dengan tahapan pengambilan dan pengujuan keputusan yang baik.


Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Dalam kondisi dilapangan yang akan ditemui seorang pendidik pastinya akan dihadapkan pada sebuah dilemma dimana ada kasus yang benar dan benar serta ada kasus yang secara moral tersebut dikatakan salah. Apabila kasus yang saya temui tersebut berdilema etika maka yang dilakukan adalah dengan mengikuti 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Dan yang terpenting nantinya semua keputusan yang akan saya lakukan tetap selalu memegang keberpihakan kepada siswa, mengandung nilai-nilai kebajikan dan keputusan yang diambil haruslah bertanggung jawab. 

Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Dengan memegang teguh nilai tersebut diharapkan kita sebagai pendidik dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan pastinya berpihak kepada siswa, segala macam kasus dilemma etika maupun bujukan moral akan bisa diselesaikan dengan maksimal.


Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sangat benar adanya karena jika keputusan tersebut sudah melalui tahapan yang jelas dan sesuai mengikuti 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan dan juga disisi yang lain menggunakan paradigma atau pandangan dari teman maupun senior kita di sekolah niscaya akan menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi seluruh penerima keputusan tersebut.


Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Secara normal dan wajar apabila dalam pengambilan keputusan kita mengalami masalah yang sulit. Tentu hal tersebut dikarenakan oleh latar belakang munculnya kasus tersebut yang bervariatif. Terkadang kesulitan dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan hasil yang baik di jangka Panjang akan memberikan derita dan pengorbanan besar bagi si pembuat keputusan. Kesulitan yang terkadang ditemui akibat dihantui peristiwa masa lalu yang akan membuat dalam mengambil keputusan terkadang membingungkan dan menyulitkan. Apalagi terkadang adanya kepentingan- kepentingan lain yang ikut andil dalam masalah tersebut yang akan membuat pengambilan keputusan tidak akan bisa bijaksana.


Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Konsep memerdekakan murid pada program guru penggerak mengajarkan kita untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada siswa tanpa dengan tekanan, memotivasi dan membangkitkan potensi-potensi yang ada pada siswa dengan harapan mereka mampu bertahan dan menghadapi perubahan zaman. Dengan pemahaman materi pengambilan keputusan akan mengajarkan kita sebagai pendidik untuk mampu bijaksana melihat kasus siswa yang dihadapi baik itu menyangkut dilemma etika maupun bujukan moral dikolaborasikan dengan teknik coaching yang menurut saya akan mengantarkan kita sebagai pendidik mampu menggali segala macam permasalahan dan solusi yang akan siswa tempuh dengan melihat kekuatan dan potensi yang mereka miliki.


Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Menurut saya sangat berpengaruh akan masa depan murid yang diajarkan kenapa demikian di tangan seorang pemimpin yang bijak dalam mengambil keputusan akan mengantarkan solusi terbaik dari masalah yang dihadapi oleh siswa. Melalui 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang tepat dan ideal tentu memberikan harapan yang baik bagi siswa.

Apalagi berbantukan teknik coaching, seorang pemimpin pembelajaran akan mampu mengumpulkan fakta akan kasus dihadapi dan memberikan kebebasan pada siswa untuk mencari solusi serta menuntut komitmen serta tanggung jawab atas keputusan yang diambil. Bergerak dari ilustrasi diatas sudah pasti kita akan bisa menghantarkan siswa untuk berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kebajikan dan pastinya menuntun mereka mencapai masa depan yang lebih baik.


Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pengambilan keputusan merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk memberikan solusi pada masalah yang dihapadi. Dalam mengambil keputusan yang bijak, baik dan efektif serta mampu menciptakan budaya yang baik haruslah disematkan nilai-nilai kebaikan/universal. Nilai-nilai tersebut seperti keratif, inovatif, mandiri, mampu berkolaborasi dan senantiasa menciptakan suatu kondisi yang berpihak terhadap murid.  Seorang pengajar berpegang teguh dengan filosifi pendidikan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka akan mengajarkan seorang guru menjadi sosok yang baik kepada siswa bagaimana bertindak sebagai panutan atau tauladan, menjadi motivasi dan mampu memberikan dorongan dan motivasi kepada siswa.

Dalam setiap institusi tentu didalamnya terdapat komunitas . Adanya kolaborasi dan komunikasi yang efektif akan membuat proses pengambilan keputusan yang baik, bijak dan efektif yang akhirnya mampu menciptakan kondisi dan situasi yang baik pula.

Pengambilan Keputusan salah satu langkah yang diambil pendidik sebagai pemimpin pembelajaran untuk memerdekakan anak untuk hidup sesuai potensi yang dimilikinya masing-masing tanpa merasa terkungkung.

 

 

 


Saturday, 12 February 2022

3.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 


Dari delapan pertanyaan yang ada, pilihlah minimal empat pertanyaan sebagai bahan refleksi Anda.

  1. Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Dengan mempelajarai modul ini saya memahami akan apa yang dimaksud tentang dilema etika dan bujukan moral. Apa perbedaan antara dilemma etika dan bujukan moral. Dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Ada hal-hal yang melanggar hukum atau norma kebenaran seperti mencuri uang teman atas dalil kelaparan dan ingin berbelanja di kantin. Dalam proses pengambilan keputusan terdapat 4 paradigma yang digunakan sebagai acuan yakni :

1.      Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.     Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.     Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.     Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang Anda hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

Setelah mengidentifikasi paradigma yang sesui dengan kasus kita juga bisa menggunakan 3 prinsip pengambilan keputusan seperti Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Dan yang terakhir untuk menentukan pengambilan keputusan yang benar-benar bijak dan baik kita harus menggunakan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dengan harapan agar keputusan tersebut bisa diterima oleh semua orang, perasaan kita sebagai pembuat keputusan merasa nyaman dan tenang atas apa yang kita pilih dan bisa digunakan sebagai referensi untuk kasus berikutnya.

 

  1. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini.  Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini.

Pengalaman yang saya alami sewaktu ditugaskan sebagai pengawas pelaksanaan PAS dan tentu saya jalankan dengan baik, beberapa hari kemudian saya mendapatkan surat dari Dinas untuk mengikuti kegiatan workshop ANBK di Surabaya. Menghapadi 2 kegiatan ini tentu akan membuat dilema etika pada saya pribadi. Di satu sisi saya sebagai pengawas di sekolah dan satu sisi saya sebagai Tim Help Desk kabupaten terkait kegiatan ANBK yang keduanya adalah kewajiban saya sebagai guru.

Dari sisi paradigma yang akan saya gunakan untuk mengambil keputusan adalah Jangka pendek lawan jangka Panjang, kenapa seperti itu? Karena saya beranggapan dari kondisi ini terdapat kepentingan jangka pendek yakni mengawas PAS dan kepentingan jangka Panjang untuk mengikuti diklat terkait pelaksanaan ANBK yang dilakukan tahun depannya. Disisi lain terdapat 2 sikap bertentangan walaupun keduanya adalah kewajiban yang pertama saya pasti memberatkan panitia lain untuk mencarikan pengganti dan terdapat rasa kasihan atas kelalaian saya meninggalkan tugas demi tugas lainnya yang lebih penting.

Prinsip pengambilan keputusan yang digunakan adalah Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) karena dimana kedua kasus ini adalah semua bagian dari kewajiban saya sebagai guru yang sudah diatur dalam peraturan baik sebagai ASN maupun peraturan guru di sekolah.

Dengan menggunakan pengambilan dan pengujian keputusan saya memilih menjalankan workshop ANBK mengingat acara ini lebih penting diikuti karena akan membagikan informasi terkait ANBK kepada teman-teman SMP di kabupaten, untuk tugas pengawas di sekolah, kemungkinan tugas mengawas bisa digantikan oleh teman lain.

  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Dalam pembelajaran tentu saya pernah menemui situasi moral dilema yang dilakukan olah siswa dimana salah satu siswa mencuri uang kas kelas karena yang bersangkutan tidak diberikan uang saku oleh orang tuanya. Tentu antara dilema etika dan bujukan moral ada sebuah perbedaan karena perilaku yang ditampilkan pada bujukan moral ada perbuatan yang melanggar hukum dan tentu itu salah.

  1. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya alami sangat banyak, yang pasti dalam mengambil keputusan sebelumnya saya lebih percaya pada hati saya saja tanpa ada beberapa pertimbangan yang lain namun dengan mempelajari modul ini saya paham anatar dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Yang mengajarkan saya untuk secara bijak berpikir dan menggunakan tahapan ini agar keputusan yang saya ambil benar-benar baik bagi semua orang.

Thursday, 16 December 2021

2.3.a.10. Aksi Nyata - Coaching

 


A.             A. Latar Belakang

Sekolah adalah merupakan sebuah tempat bagi pendidik untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada siswa. Sekolah menjadi salah satu tempat untuk mendidik anak-anak, memberikan ilmu yang diberikan supaya mereka mampu menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan juga negara. Tentunya di dalam sekolah pasti terjadi sebuah interaksi bagi seluruh warga sekolah oleh karena itu sekolah harus mampu menjadi tempat yang aman, nyaman dan pasti bermakna bagi seluruh warga sekolah.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak- anak. Adapun tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Realita yang terjadi selama proses pemberian pendidikan di sekolah, terkadang kita sebagai pendidik/guru sering menjumpai banyak kasus atau tantangan yang terkait dengan potensi para murid. Kasus dan tantangan tersebut seringkali menjadi penghambat kemajuan murid dalam mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan seutuhnya di sekolah.

Sebagai solusi dari beberapa kasus yang dijumpai pada siswa adalah coaching. Dalam coaching seorang guru berperan sebagai coach dapat menuntun, mengarahkan, dan membimbing seorang coachee (murid) dengan mengajukan pertanyaan untuk menggali segala potensi dan kemampuan yang dimiliki coache dengan harapan agar coache dapat menyadari akan potensi yang ada pada dirinya sehingga ia dapat memanfaatkan potensinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Sebagai salah satu calon guru penggerak di SMP Negeri 1 Negara saya akan mengajak rekan dalam komunitas praktisi KOPIMOLI serta berkolaborasi dengan Guru BK selaku guru yang selalu memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa agar mampu membangkitkan potensi, memotivasi untuk mendinamiskan potensi, memecahkan masalah yang dihadapi siswa dengan tujuan nyata agar siswa dapat berkembang sesuai dengan harapan dan cita-cita.

 

B.               B. Tujuan Tindakan Aksi Nyata

Tujuan dari tindakan aksi nyata adalah :

1.    Membantu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi guru dan murid dengan cara menuntun dan membimbingnya mencapai solusi yang diharapkannya.

2.    Menciptakan Budaya Positif pada semua warga sekolah

 

C.                C. Tolak Ukur

Adapun Tolak ukur keberhasilan penyelenggaraan aksi nyata sebagai berikut :

1.    Penyelesaian masalah yang dihadapi guru dan murid.

2.    Terciptanya Budaya Positif pada semua warga sekolah.

 

D.                     D. Linimasa Tindakan

1.    Merancang jadwal kegiatan selanjutnya Melaksanakan kegiatan coaching.

2.    Melakukan sosialisasi terkait pentingnya kegiatan coaching kepada warga sekolah.

3.    Melakukan tutor sebagai kepada komunitas praktisi agar nanti mampu melakukan kegiatan coaching.

4.    Melakukan kegiatan coaching baik pada siswa maupun guru di sekolah.

5.    Mengevaluasi dan Merefleksi kegiatan coaching yang sudah dilakukan.

 

E.               E. Dukungan Yang di Butuhkan

     Dalam melakukan aksi nyata terkait tentang coaching, CGP sepenuhnya didukung oleh Kepala Sekolah selalu penanggung jawab di SMP Negeri 1 Negara. Rekan Guru dan Komunitas Praktisi KOPI MOLI yang sekaligus sebagai subjek dan objek dari kegiatan Coaching tersebut, Siswa SMP Negeri 1 Negara yang memiliki persoalan pada dirinya dengan tujuan nyata mampu mengembangkan potensi agar bisa tercapai cita-citanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Monday, 6 December 2021

A. Komunikasi Asertif

A.    Komunikasi Asertif

Dalam proses berkomunikasi dengan orang lain, tidak selalu apa yang kita harapkan akan berjalan dengan lancar. Ada saja hambatan yang datang dan seringkali hasil komunikasi tersebut tidak dapat memuaskan semua orang. Hal ini dapat terjadi karena sikap berkomunikasi yang berbeda satu sama lain, dan tidak semua orang dapat secara mudah mengungkapkan apa yang ada di benaknya dengan tepat. Kita perlu memahami tipe umum manusia berkomunikasi agar kita dapat memberikan respon yang tepat.

Untuk lebih memahami, simaklah video singkat berikut ini kemudian jawablah pertanyaan reflektif yang disajikan:


Apakah gaya komunikasi Anda? Mengapa Anda berpikir demikian?

Komunikator Asertif karena terkadang dalam permasalahan yang dialami kemarin sewaktu pelaksanaan PJJ. Terkait dengan pemanfaatan teknologi yang digunakan dalam proses pembelajaran, langkah yang saya lakukan sebagai guru TIK adalah dengan menjembatani antara keinginan kepala sekolah sebagai pemangku tertinggi terkait pelaksanaan PJJ dan keluh kesah atau pemahaman teknologi yang dimiliki teman sehingga bisa mendapatkan jalan tengah yang maksimal pada saat PJJ berlangsung. Saya berusaha memberikan solusi kepada kepala sekolah terhadap kemampuan teman-teman serta opsi pembelajaran yang ideal bisa dilakukan selama PJJ.

Langkah-langkah yang perlu dipelajari untuk menjadi komunikator yang asertif.

Untuk melakukan komunikasi yang asertif seseorang diharapkan untuk tegas dan selalu bertanggung jawab atas tindakan apa yang dilakukan. jujur  namun tetap menghargai dan menjaga perasaan orang lain

Apakah yang menjadi tantangan Anda dan apa yang perlu diusahakan dari diri Anda agar dapat melakukan komunikasi asertif?

Tantangan yang akan terjadi dalam melakukan komunikasi asertif adalah dikala dalam sebuah komunikasi seseorang dengan komunikasi agresif yang cenderung ingin dominan tanpa mau mempertimbangkan perasaan dan kemampuan orang lain, Komunikasi pasif dimana Sikap pasif yang cenderung tanpa mau melakukan sanggahan atas keputusan yang dilakukan.  Sehingga perlu adanya sebuah usaha untuk menjembatani antara agresif dan pasif demi terciptanya win win solution atau keputusan yang baik kepada semua pihak.  Memberikan pernyataan yang tegas serta solusi dari sebuah permasalahan, Percaya diri dalam mengungkapkan pernyataan tersebut dan arah pembicaraan yang terkontrol

Berkomunikasi secara asertif akan membangun kualitas hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih positif karena ada pencapaian bersama dan kesepakatan dalam pemahaman dari kedua belah pihak. Kualitas hubungan yang diharapkan dibangun atas rasa hormat pada pemikiran dan perasaan orang lain.

 Ketika melakukan kegiatan coaching, sebagai seorang coach kita biasanya menghendaki adanya hasil yang dicapai, namun ada kalanya coachee kita (murid) merasa tidak suka atau merasa ragu serta tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. Karenanya, sebuah pemahaman komunikasi asertif perlu dibangun agar timbul rasa percaya dan aman. Ketika rasa aman itu hadir dalam sebuah hubungan coach and coachee, maka coachee akan lebih terbuka dan menerima ajakan kita untuk berkomunikasi. Keselarasan pada tujuan mulai terbangun.

 

Dalam usaha membangun keselarasan berkomunikasi, coach juga perlu belajar menyamakan posisi diri pada saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang dapat seorang coach lakukan:

1.   Menyamakan kata kunci

 Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.

Kata-kata kunci biasanya merupakan kata-kata yang diulang-ulang atau ditekankan oleh coachee dan ini biasanya terkait dengan nilai kehidupan. Coach dapat menggunakan kata-kata kunci ini untuk membimbing coachee untuk mencapai tujuannya.

Sebagai contoh, jika murid menggunakan bahasa dan istilah kekinian dalam bercerita, kita dapat juga menggunakan istilah yang dipakai ketika kita bertanya untuk mengklarifikasi pernyataannya.

 Percakapan 1

Murid  : “Bu, aku tuh kalau uda masuk kelas Pak Mato, pikiran tuh langsung ambyar..byar byar Bu.”

Guru    : “Oh demikian? Bisa kamu ceritakan ambyar yang bagaimana sehingga kamu sulit konsentrasi belajar di kelas?”

 Percakapan 2

Murid  : “Pak, Timun selalu gitu deh. Lebay banget kalau uda ngomong. Saya makin lama uda gak nyaman mau main sama dia.”

Guru    : “Seberapa kecewanya kamu dengan lebaynya teman yang kamu ceritakan barusan?

 

2.  Menyamakan bahasa tubuh

Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya.

Coach dapat memberikan tanda setuju secara tidak langsung pada apa yang disampaikan coachee dengan senyum atau dengan anggukan. Jika coachee kita sedang bersandar ke lengan kursi misalnya, coach juga dapat mengikuti gerakannya. Ketika coachee sedang bersemangat bercerita dan mencondongkan tubuhnya ke depan, kita juga usahakan  mengikutinya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru.

3. Menyelaraskan emosi

Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.

Contoh:

Murid : “Saya sudah gak bisa kerja sama Toni lagi Bu. Dia tidak pernah menerima ide yang saya berikan.”

Guru  : “Ya, Ibu dapat memahami perasaan kamu. Tidak semua orang dapat dengan mudah menerima pendapat orang lain.”

Komunikasi asertif membangun relasi. Relasi baik dan positif yang terbentuk akan menjadi modal utama dalam process coaching.

Setelah mempelajari bagian ini apa pemahaman Anda mengenai makna dari membangun sebuah komunikasi asertif dengan murid?

Dalam membangun sebuah komunikasi asertif dengan murid tidaklah mudah. Proses membangun kualitas hubungan kita dengan siswa menjadi lebih positif karena ada pencapaian bersama dan kesepakatan dalam pemahaman dari kedua belah pihak. Sehingga kualitas hubungan yang diharapkan dibangun atas rasa hormat pada pemikiran dan perasaan murid. Untuk membangun hubungan dan komunikasi kita dengan siswa menjadi lebih positif dan nyaman bagi siswa maka sebagai pengajar harus mengetahui beberapa tips yang dilakukan dalam komunikasi asertif yakni menyamakan kata kunci sehingga terjalin komunikasi yang nyambung tidak timpang, menyamakan bahasa tubuh dengan tujuan kita terlihat menanggapi atas komunikasi yang terjadi dan menyelaraskan emosi untuk  mengertikan perasaan yang dialami oleh lawan bicara

Apa dampak yang bisa Anda rasakan?

Sangat bermanfaat dengan tips tersebut jika diterapkan akan sangat membantu dalam proses terciptanya komunikasi asertif dengan murid